Kejahatan di Kota dan Desa

Pengertian Kejahatan

Kejahatan bukan peristiwa hereditas (bawimagesaan sejak lahir, warisan), juga bukan merupakan warisan biologis. Tindak kejahatan bisa dilakukan oleh siapapun, baik pria mau wanita, baik orang yang berpendidikan atau tidak, tua, muda, orang kaya, maupun orang miskin. Tindak kejahatan bisa dilakukan secara sadar / dengan cara dipikirkan atau direncanakan terlebih dahulu, dan diarahkan pada maksud tertentu tanpa memikirkan akibatnya. Kejahatan juga bisa dilakukan secara tidak sadar. Kejahatan merupakan suatu konsepsi yang bersifat  abstrak, dimana kejahatan tidak dapat diraba dan dilihat kecuali akibatnya saja.

Berikut adalah definisi Kejahatan menurut beberapa ahli:

Definisi kejahatan menurut Kartono (2003 : 126) bahwa : “Secara sosiologis,  kejahatan  adalah  semua  ucapan, perbuatan  dan tingkah  laku yang secara ekonomis, politis dan sosial-psikologis sangat merugikan masyarakat, melanggar norma-norma  susila, dan menyerang keselamatan  warga  masyarakat (baik yang telah tercakup dalam undang-undang, maupun yang belum tercantum dalam undang-undang pidana)”.

Definisi kejahatan menurut  J.M. Bemmelem : “kejahatan sebagai suatu tindakan anti sosial yang menimbulkan kerugian, ketidakpatutan dalam masyarakat, sehingga dalam masyarakat terdapat kegelisahan, dan untuk menentramkan masyarakat, negara harus menjatuhkan hukuman kepada penjahat”.

Definisi kejahatan menurut M.A. Elliot bahwa : “kejahatan adalah suatu problem dalam masyarakat modem atau tingkah laku yang gagal dan melanggar hukum dapat dijatuhi hukurnan penjara, hukuman mati dan hukuman denda dan seterusnya.”

Perbedaan kejahatan pada Masyarakat Kota dan Desa

Kejahatan di Kota cenderung lebih besar daripada di desa. Tingginya angka kejahatan kebanyakan terjadi di wilayah yang biasanya relatif padat penduduknya, terutama di daerah perkotaan. Di perkotaan memliki  Fasilitas sosial ekonomi yang semakin banyak dan tersebar, ini  merupakan salah satu faktor penarik bagi para penduduk pedesaan atau luar daerah untuk datang dan bertempat tinggal, baik untuk mencari pekerjaan, suasana baru, maupun alasan lain. Kondisi ini yang menyebabkan di daerah perkotaaan cukup rentan terhadap berbagai tindak kejahatan. Mulai dari kejahatan seperti Perampokan, Pembunuhan, Penculikan, dll. Faktor pendorong lain dari kejahatan ini adalah karena masalah sosial, seperti faktor Ekonomi, Pendidikan, Agama, dll. Rata-rata pelaku-pelaku kejahatan ini dimulai dari kalangan orang yang tidak mempunyai pekerjaan/pengangguran, orang yang ‘tidak punya’, orang yang tidak mempunyai dan mengerti adat, etika, dan agama yang baik, bahkan orang yang ‘punya’ pun turut menjadi pelaku dalam kejahatan. Masyarakat kota identik dengan gaya hidup yang menengah ke atas, banyak juga orang yang mengatakan “hidup di kota itu keras”. ‘Orang jahat’ yang hidup di daerah perkotaan, pastilah mereka melakukan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia butuhkan, karena semua kebutuhan hidup terdapat di Kota.

Beda dengan halnya di Kota, tingkat kejahatan di desa tidak terlalu menonjol seperti di kota. Karena Masyarakat di desa cenderung hidup dengan kekeluargaan. Jadi jika ada masalah, mereka akan bergotong royong untuk memecahkan masalah tersebut. Beda dengan di Kota, hidupnya lebih cenderung individualisme. Jadi mereka memikirkan kepentingannya masing-masing dan memiliki sikap tak acuh terhadap lingkungan sosialnya. Kalau bahasa gaulnya “Lo ya lo, gue ya gue”. Masyarakat desa memiliki sifat religius dan masih menganut ajaran-ajaran leluhurnya. Karena kalau mereka berbuat jahat dan melanggar ajaran leluhurnya, mereka akan dihukum sesuai dengan perbuatannya. Pastilah mereka akan takut dan enggan untuk melakukannya. Bukan berarti di Desa tidak ada dan bersih dari kasus kejahatan, pastilah masyarakat di pedesaan juga pernah melakukannya. Faktor faktornya juga pasti sama seperti yang sudah saya sebutkan diatas, tapi tidak separah di kota.

Intinya,

Kejahatan adalah suatu persoalan yang selalu melekat dimana masyarakat ituada. Kejahatan selalu akan ada seperti penyakit dan kematian yang selalu berulang seperti halnya dengan musim yang berganti-ganti dari tahun ke tahun.

Segala daya upaya dalam menghadapi kejahatan hanya dapat menekan atau menguranagi meningkatnya jumlah kejahatan dan memperbaiki penjahat agar dapat kembali sebagai warga masyarakat yang baik.

Masalah pencegahan dan penanggulangan kejahatan, tidaklah sekedar mengatasi kejahatan yang sedang terjadi dalam lingkungan masyarakat, tapi harus diperhatikan pula, atau harus dimulai dari kondisi yang menguntungkan bagi kehidupan manusia. Perlu digali, dikembangkan dan dimanfaatkan seluruh potensi dukungan dan partisipasi masyarakat dalam upaya untuk menanggulangi kejahatan. Hal itu menjadi tugas dari setiap kita, karena kita adalah bagian dari masyarakat.

 

Source :

http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-Undergraduate-22153-BAB%20II.pdf
http://library.usu.ac.id/download/fh/pid-syahruddin1.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s